Tamasya ke 181 Krisis Kenal Nabi di Era Gawai, Kyai Ahmad Said: Jangan Biarkan Anak Lebih Mengenal Game daripada Rasulullah

Krisis Kenal Nabi di Era Gawai, Kyai Ahmad Said: Jangan Biarkan Anak Lebih Mengenal Game daripada Rasulullah ﷺ

BOGOR — Majelis Tamasya (Ta’lim dan Maulid Sabtu/Ahad) kembali digelar. Memasuki putaran ke-181, kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 30 Agustus 2026, bertempat di Mushola Al-Muhajirin, Perumahan Griya Abdi, Cilendek, Kota Bogor, dihadiri puluhan peserta.

Kegiatan diawali dengan Tartibul Fatihah, pembacaan Maulid Simtudurror, doa, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, sambutan tuan rumah, penampilan Prostadz, tausiyah utama, pembagian hadiah, hingga doa penutup majelis.

Tamasya 181: Menghidupkan Syiar dari Lingkungan Warga

Dalam sambutannya, Ketua RT setempat, Bapak Caca, menyampaikan apresiasi kepada Darul Futuh yang telah hadir dan menyelenggarakan kegiatan Maulid di lingkungan Perumahan Griya Abdi.

Ia berharap kegiatan syiar dan majelis keilmuan semacam ini dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dari Batu yang Mengucapkan Salam hingga Pentingnya Bershalawat

Pada sesi tausiyah pertama, Ustadz Jamal mengangkat sejumlah riwayat tentang keistimewaan Rasulullah ﷺ. Salah satunya adalah hadis riwayat Imam Muslim dari Jabir bin Samurah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui sebuah batu di Makkah yang dahulu mengucapkan salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Nabi. Sesungguhnya sekarang pun aku masih mengenalinya.”

Ustadz Jamal juga menyampaikan hadis riwayat Abu Dawud tentang orang yang mengucapkan salam kepada Rasulullah ﷺ, serta menjelaskan pentingnya menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ dalam keluarga.

Menurutnya, peran para ibu sangat penting dalam mengenalkan Rasulullah ﷺ kepada anak-anak sejak dini, termasuk melalui pembacaan shalawat, kisah kehidupan Nabi, dan pembiasaan mencintai Rasulullah ﷺ.

Kyai Ahmad Said: Jangan Sampai Anak Lebih Mengenal Gawai daripada Rasulullah ﷺ

Tausiyah utama kemudian disampaikan oleh Kyai Ahmad Said. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa mengenal Rasulullah ﷺ bukan sekadar pengetahuan sejarah, melainkan bagian penting dari upaya membangun keimanan dan kecintaan seorang Muslim kepada Nabinya.

Kyai Ahmad Said mengawali tausiyah dengan mengajak jamaah bersyukur karena dapat berkumpul dalam majelis yang membahas Rasulullah ﷺ.

Menurutnya, pertemuan yang berkaitan dengan Nabi Muhammad ﷺ tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan biasa.

“Kadang-kadang karena kita kurang informasi tentang ilmu sirah nabawiyah, pertemuan seperti ini kita anggap biasa-biasa saja. Padahal luar biasa, apalagi berkaitan dengan Nabi Muhammad ﷺ,” tuturnya.

Ia kemudian mengisahkan perjalanan Suraqah bin Malik ketika mengejar Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah. Suraqah awalnya tergiur hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkap Rasulullah ﷺ dan Sayyidina Abu Bakar.

Namun, peristiwa yang dialaminya dalam perjalanan membuat Suraqah menyadari bahwa Rasulullah ﷺ mendapatkan pertolongan Allah.

Kisah tersebut, menurut Kyai Ahmad Said, menunjukkan bagaimana satu pertemuan dengan Rasulullah ﷺ dapat mengubah perjalanan hidup seseorang.

“Bagaimana Kita Bisa Mencintai Kalau Tidak Mengenal?”

Kyai Ahmad Said menilai salah satu tantangan umat Islam saat ini adalah semakin jauhnya generasi muda dari kisah dan kehidupan Rasulullah ﷺ.

Ia menyoroti kondisi anak-anak yang lebih akrab dengan permainan, tontonan, dan berbagai hiburan dibandingkan dengan kisah Nabi Muhammad ﷺ.

“Dia lebih kenal game, lebih kenal tontonan daripada Rasulullah SAW,” ujarnya.

Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk kembali mengenalkan Rasulullah ﷺ kepada anak-anak melalui cara yang sederhana dan konsisten.

Salah satunya dengan membiasakan anak membaca shalawat dan mendengarkan kisah Rasulullah ﷺ setiap hari.

Menurutnya, pembiasaan tersebut apabila dilakukan secara istiqamah dapat memberikan perubahan dalam diri anak.

Enam Ilmu untuk Mengenal Rasulullah ﷺ

Dalam tausiyahnya, Kyai Ahmad Said juga menjelaskan pentingnya mempelajari berbagai cabang ilmu yang berkaitan dengan Rasulullah ﷺ. Salah satunya adalah Sirah Nabawiyah, yakni ilmu yang mempelajari perjalanan kehidupan Rasulullah ﷺ sejak kelahiran, masa kanak-kanak, masa muda, pernikahan, masa kenabian, perjuangan dakwah, hingga wafat beliau ﷺ.

Ia mencontohkan bagaimana perjalanan hidup Rasulullah ﷺ begitu luas untuk dipelajari, mulai dari masa kecil bersama Sayyidah Halimah As-Sa’diyah, masa muda, perjalanan berdagang, pernikahan dengan Sayyidah Khadijah radhiyallahu ‘anha, hingga perjuangan beliau dalam menyampaikan risalah Islam.

“Untuk mengenal Nabi harus belajar tentang Sirah Nabawiyah,” tegasnya.

Menurut Kyai Ahmad Said, semakin banyak seseorang mempelajari kehidupan Rasulullah ﷺ melalui riwayat yang valid, semakin besar peluang tumbuhnya rasa percaya, cinta, dan keteladanan kepada beliau.

Maulid Dinilai Menjadi Ruang untuk Menghidupkan Kembali Sirah Nabi

Kegiatan Tamasya Putaran ke-181 tersebut pada akhirnya tidak hanya menjadi forum peringatan Maulid, tetapi juga menjadi ruang untuk menghidupkan kembali pembelajaran tentang kehidupan Rasulullah ﷺ di tengah masyarakat.

Kyai Ahmad Said mengajak jamaah agar majelis-majelis yang membahas Rasulullah ﷺ terus diramaikan dan dijadikan sarana untuk memperkuat hubungan umat Islam dengan Nabinya.

Ia menegaskan, umat tidak cukup hanya mengetahui nama Nabi Muhammad ﷺ, tetapi perlu mengenal sejarah, akhlak, keluarga, perjuangan, dan keteladanan beliau.

Pesan tersebut menjadi salah satu benang merah tausiyah: kecintaan kepada Rasulullah ﷺ harus dibangun melalui proses mengenal, mempelajari, mengingat, dan meneladani kehidupan beliau.

Tamasya Putaran ke-181 di Mushola Al-Muhajirin pun ditutup dengan pembagian hadiah dan doa penutup majelis. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus menghadirkan majelis ilmu, Maulid, dan syiar Islam di tengah masyarakat.

Dari Griya Abdi, Cilendek, pesan itu kembali ditegaskan: mengenal Rasulullah ﷺ bukan sekadar mengingat sejarah, tetapi menumbuhkan cinta yang diharapkan menjadi bekal umat dalam menjalani kehidupan.

Dan kami selaku Penanggung Jawab Kegiatan Tamasya Berterima Kasih Sebesar-besarnya Kepada Para Pendukung Acara, yang Sudah Terlibat sebagai Donatur, Membantu Dengan Tenaga, Doa dan Lain Sebagainya,

Dan Kami Juga Selaku Penanggung Jawab juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Minggu yang akan datang.

Untuk informasi lebih lanjut:

Konfirmasi Pengajuan Tempat

Penanggung Jawab Tamasya
Yogi Setiawan
(089638202536)

Infaq Acara Transfer Ke :
BSI ( Bank Syariah Indonesia )
A/n Majlis Ta’lim Darul Futuh
7755777883
( Konfirmasi ke Nomor WA diatas)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Klo Mau Lebih Lengkapnya Mari Nonton Link di bawah ini 👇

https://www.facebook.com/share/v/18zCb5edHv/

Facebook
Twitter
LinkedIn

Kategori Terpopuler

Kategori Nasehat

Scroll to Top