Tamasya ke 183 – Dari Batu Hulung, Pesan Al-Qur’an dan Ridha Suami Menggema

BOGOR — Majelis TAMASYA (Ta’lim dan Maulid Sabtu/Ahad) kembali digelar dalam rangkaian putaran ke-183. Kegiatan yang berlangsung pada Ahad, 20 September 2026, kali ini bertempat di kediaman Bapak Yuri Dinosia Simangunsong, Jalan Batu Hulung 3 Nomor 36 A, Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bogor Barat.

Puluhan peserta hadir mengikuti rangkaian majelis yang memadukan pembacaan Maulid, tahlil, tausiyah, serta kajian keislaman. Kegiatan berlangsung dalam suasana khidmat, hangat, dan penuh kekeluargaan.

Rangkaian acara diawali dengan Tartibul Fatihah, dilanjutkan pembacaan Maulid Simthud Durar dan doa, pembacaan tahlil dan doa, sambutan tuan rumah, penampilan Prostadz, tausiyah, hingga kajian utama yang disampaikan Kyai Ahmad Said serta doa penutup majelis.

Tuan Rumah: Semoga Majelis Membawa Keberkahan

Dalam sambutannya, Bapak Yuri Dinosia Simangunsong menyampaikan rasa syukur karena rumahnya mendapat kesempatan menjadi tempat berlangsungnya kegiatan Tamasya.

“Puji syukur kita panjatkan kepada Allah SWT. Terima kasih telah datang memenuhi undangan Tamasya. Terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh jamaah dan kepada Pak Kyai. Semoga ilmunya bermanfaat,” ujarnya.

Bapak Yuri juga menyampaikan permohonan maaf apabila jamuan yang disediakan masih memiliki kekurangan.

“Maaf bila jamuan masih kurang. Semoga acara ini berjalan lancar,” katanya.

Ulumul Qur’an: Memahami Al-Qur’an Tidak Cukup Hanya dengan Terjemahan

Tausiyah pertama disampaikan Bapak Akrom, yang dalam kesempatan tersebut tampil perdana dalam rangkaian Tamasya.

Ia mengangkat tema Ulumul Qur’an, dengan merujuk pada kitab Al-Qawaid Al-Asasiyah fi Ulumil Qur’an karya Al-Imam Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani.

Menurutnya, mempelajari Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca terjemahan. Dibutuhkan kaidah dan perangkat keilmuan agar seseorang tidak keliru dalam memahami kandungan ayat.

“Memahami Qur’an tidak cukup hanya baca terjemah. Harus pakai kuncinya. Kalau kunci salah, pemahaman bisa salah,” jelasnya.

Dalam tausiyah singkatnya, Bapak Akrom merangkum tiga kaidah penting.

Pertama, Al-Makki wal Madani, yakni memahami perbedaan ayat yang turun sebelum dan sesudah hijrah. Ia menjelaskan bahwa pembentukan keluarga juga dapat mengambil pelajaran dari metode Al-Qur’an: membangun fondasi tauhid dan kecintaan kepada Allah sebelum memberikan berbagai aturan.

Kedua, Asbabun Nuzul, yaitu memahami latar belakang turunnya ayat. Menurutnya, pemahaman terhadap konteks ayat dapat membantu umat menghindari kesalahan dalam memahami pesan Al-Qur’an.

Ketiga, At-Ta’rif wat Tankir serta At-Taqdim wat Ta’khir, yang antara lain berkaitan dengan keindahan dan ketelitian susunan bahasa Al-Qur’an.

Ia mencontohkan lafaz:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in.”

Menurutnya, pendahuluan kata iyyaka memberikan penekanan makna pengkhususan: hanya kepada Allah SWT manusia menyembah dan memohon pertolongan.

Dari tiga kaidah tersebut, ia menegaskan bahwa tujuan mempelajari Ulumul Qur’an bukan sekadar untuk memperkaya perdebatan keilmuan.

Ada tiga tujuan utama yang ditekankan: menambah kecintaan dan penghormatan kepada Al-Qur’an, mencegah penafsiran secara sembarangan, serta menghadirkan Al-Qur’an dalam kehidupan keluarga.

Menutup tausiyahnya, Bapak Akrom berharap rumah Bapak Yuri menjadi rumah yang dipenuhi keberkahan Al-Qur’an.

“Semoga rumah Bapak Yuri Dinosia Simangunsong menjadi rumah yang menjadi tempat belajarnya Al-Qur’an, tempat turunnya sakinah, dan menjadi pemberat timbangan amal di akhirat kelak,” tuturnya.

Kyai Ahmad Said: Program Tamasya Harus Menjadi Jalan Meraih Keberkahan

Memasuki tausiyah utama, Kyai Ahmad Said terlebih dahulu menyampaikan rasa syukur atas nikmat dan taufik Allah SWT sehingga jamaah dapat kembali berkumpul dalam program Tamasya.

Beliau secara khusus mendoakan keluarga besar Bapak Yuri Dinosia Simangunsong, termasuk keluarga besar Bapak Haji Hernios, agar mendapatkan keberkahan dalam keluarga, istri, anak, rezeki, serta rumah yang ditempati.

“Program Tamasya sudah sampai di angka 183 di rumah Bapak Yuri. Mudah-mudahan beliau sekeluarga mendapatkan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,” ungkapnya.

Beliau juga berharap keberkahan ilmu dan majelis dapat dirasakan oleh seluruh jamaah yang hadir.

“Semoga kita yang hadir mendapatkan kebahagiaan dan kecipratan keberkahan dari apa yang kita niatkan, apa yang kita kaji, keberkahan kitab, keberkahan ulama yang mengarangnya, dan niat para ulama,” ucap Beliau.

Hadis ke-286: Ketika Ridha Suami Menjadi Jalan Menuju Surga

Dalam kajian utama, Kyai Ahmad Said melanjutkan pembahasan Hadis ke-286 mengenai kehidupan rumah tangga dan keridhaan suami terhadap istri.

Beliau membacakan hadis yang diriwayatkan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتِ الْجَنَّةَ

“Siapa saja seorang wanita yang meninggal sementara suaminya ridha kepadanya, maka ia masuk surga.”

Hadis tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, yang dalam pembahasan yang disampaikan disebut sebagai hadis hasan.

Kyai Ahmad Said kemudian mengajak jamaah mengenal lebih dekat sosok Sayyidah Ummu Salamah, salah seorang Ummahatul Mukminin.

Ummu Salamah: Keteguhan Iman di Tengah Ujian

Dalam paparannya, Kyai Ahmad Said mengisahkan keteguhan Sayyidah Ummu Salamah ketika menjalani perjalanan hijrah. Ia juga menguraikan berbagai ujian yang dialaminya, termasuk perpisahan dengan suami dan anak dalam proses hijrah.

Kisah tersebut, menurutnya, memberikan gambaran mengenai keteguhan iman dan kesabaran seorang perempuan dalam menghadapi ujian.

Kyai Ahmad Said juga mengangkat doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ ketika seseorang mendapatkan musibah:

اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

“Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku dan gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”

Ia kemudian mengisahkan bagaimana Ummu Salamah akhirnya menjadi salah seorang istri Rasulullah ﷺ.

Menurut pemaparan Kyai Ahmad Said, kisah Ummu Salamah memperlihatkan bahwa ujian, kehilangan, dan kesulitan tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan. Dengan kesabaran dan tawakal, seseorang dapat memperoleh jalan kebaikan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Dari Hadis ke Kehidupan Rumah Tangga

Kajian kemudian diarahkan kepada pesan utama hadis, yakni pentingnya membangun kehidupan rumah tangga di atas ketaatan, tanggung jawab, dan upaya mendapatkan keridhaan pasangan dalam koridor syariat.

Kyai Ahmad Said juga menyampaikan sejumlah kisah dan riwayat yang berkaitan dengan ketaatan seorang istri kepada suami. Namun, ia mengingatkan jamaah bahwa pembahasan hadis harus disertai perhatian terhadap sanad, kualitas riwayat, serta penjelasan para ulama.

Dalam kajian tersebut, ia turut membahas persoalan sanad hadis dan istilah majhul, yakni keadaan ketika identitas atau kredibilitas seorang perawi tidak diketahui secara memadai. Penjelasan tersebut menjadi bagian dari pengenalan kepada jamaah bahwa kajian hadis tidak hanya berbicara mengenai isi teks, tetapi juga mengenai sumber dan jalur periwayatannya.

Beliau juga mengutip sejumlah riwayat pendukung (syawahid) yang memiliki tema serupa mengenai ketaatan seorang istri kepada suaminya.

Tamasya 183: Menjadikan Rumah sebagai Tempat Ilmu dan Keberkahan

Kajian Tamasya Putaran ke-183 di kediaman Bapak Yuri Dinosia Simangunsong pada akhirnya tidak sekadar menjadi pertemuan rutin jamaah.

Dari pembahasan Ulumul Qur’an hingga kajian hadis tentang kehidupan rumah tangga, jamaah diajak melihat bahwa ilmu agama memiliki hubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari.

Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi dipahami dan dihidupkan dalam keluarga. Hadis tidak hanya dikaji, tetapi juga menjadi bahan evaluasi dalam membangun kehidupan rumah tangga dan hubungan antarmanusia.

Kyai Ahmad Said menutup kajiannya dengan harapan agar rumah yang menjadi tempat berlangsungnya majelis senantiasa mendapatkan keberkahan dari Allah SWT.

Tamasya Putaran ke-183 di Batu Hulung pun menjadi satu lagi catatan perjalanan majelis: dari rumah ke rumah, dari satu keluarga ke keluarga lainnya, membawa ilmu, silaturahmi, doa, dan harapan agar setiap rumah yang menjadi tempat berkumpulnya majelis ilmu menjadi rumah yang dipenuhi keberkahan.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Dan kami selaku Penanggung Jawab Kegiatan Tamasya Berterima Kasih Sebesar-besarnya Kepada Para Pendukung Acara, yang Sudah Terlibat sebagai Donatur, Membantu Dengan Tenaga, Doa dan Lain Sebagainya,

Dan Kami Juga Selaku Penanggung Jawab juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Minggu yang akan datang.

Untuk informasi lebih lanjut:

Konfirmasi Pengajuan Tempat

Penanggung Jawab Tamasya
Yogi Setiawan
(089638202536)

Infaq Acara Transfer Ke :
BSI ( Bank Syariah Indonesia )
A/n Majlis Ta’lim Darul Futuh
7755777883
( Konfirmasi ke Nomor WA diatas)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

 

Klo Mau Lebih Lengkapnya Mari Nonton Link di bawah ini 👇

https://www.facebook.com/share/v/1CzLodKYeS/

Facebook
Twitter
LinkedIn

Kategori Terpopuler

Kategori Nasehat

Scroll to Top