Tamasya ke 186 – Keberkahan Tak Diukur dari Megahnya Bangunan, tetapi Hidupnya Majelis dan Jamaah

BOGOR, Sindang Barang Loji — Majelis Ta’lim Maulid Sabtu Ahad (TAMASYA) kembali menggelar kegiatan rutin putaran ke-186 di Mushola Nurul Islam, RT 03/RW 03, Sindang Barang Loji. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi, menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta memperkuat tradisi keilmuan Islam di tengah masyarakat.

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Maulid Simtud Durar, dilanjutkan pembacaan tahlil, sambutan tuan rumah, penampilan Prostadz (Proses Menjadi Ustadz), kajian kitab Riyadhus Shalihin, dan ramah tamah.

Dalam sambutannya, Shohibul Bait yang diwakili Ketua RT, Bapak Helmi, mengajak seluruh jamaah menjadikan Tamasya sebagai sarana menyebarkan ajaran Islam dengan kesabaran, keteladanan, dan kasih sayang.

Menurutnya, Rasulullah SAW merupakan teladan terbaik bagi umat manusia melalui akhlak yang luhur, kelembutan, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW tidak cukup diwujudkan melalui peringatan Maulid, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut. Diharapkan, Tamasya terus membawa keberkahan, mempererat ukhuwah Islamiyah, dan meningkatkan kecintaan umat kepada Rasulullah SAW.

Ust Marfudin: Keutamaan Rasulullah SAW Menghadirkan Ketenangan bagi Umat

Dalam sesi Prostadz, Ust Marfudin menyampaikan materi tentang keutamaan Nabi Muhammad SAW dibandingkan para nabi lainnya, khususnya dalam menggambarkan pertolongan Allah SWT yang menghadirkan ketenangan bukan hanya bagi Rasulullah, tetapi juga bagi sahabat yang mendampinginya.

Ia mengangkat peristiwa Nabi Musa AS ketika menghadapi kejaran Fir’aun dan tentaranya. Saat kaumnya merasa akan tersusul, Nabi Musa AS menegaskan keyakinannya bahwa Allah SWT akan memberikan petunjuk kepadanya.

Materi kemudian dikaitkan dengan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW bersama Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA di Gua Tsur. Ketika Abu Bakar mengkhawatirkan keselamatan mereka, Rasulullah SAW menenangkannya dengan keyakinan bahwa Allah senantiasa bersama mereka.

Dua ungkapan yang menjadi sorotan ialah:

“إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ”

Artinya, “Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.” (QS. Asy-Syu‘ara: 62).

Serta firman Allah SWT:

“لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا”

Artinya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40).

Ust Marfudin menjelaskan bahwa kedua kisah tersebut menunjukkan pertolongan dan keyakinan kepada Allah SWT. Ia menekankan pesan spiritual bahwa keteguhan iman dapat menjadi sumber ketenangan dalam menghadapi kesulitan, sekaligus menguatkan orang-orang yang berada di sekitar kita.

Kyai Ahmad Said Bedah Hadis tentang Fitnah dan Ujian dalam Kehidupan Keluarga

Sebagai narasumber utama, Kyai Ahmad Said melanjutkan kajian kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawi, khususnya hadis nomor 288 yang diriwayatkan oleh Usamah bin Zaid RA dan tercantum dalam Shahih Al-Bukhari serta Shahih Muslim.

Hadis tersebut berbunyi:

“مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ”

Artinya, “Aku tidak meninggalkan setelahku suatu ujian yang lebih berat bagi kaum lelaki daripada perempuan.”

Dalam pemaparannya, Kyai Ahmad Said menguraikan makna fitnah sebagai ujian dan cobaan yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang. Pembahasan diarahkan pada pentingnya menjaga diri, membangun kehidupan rumah tangga yang baik, serta memahami tanggung jawab suami dan istri dalam perspektif ajaran Islam.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tidak memahami hadis hanya dari terjemahan secara tekstual. Pemahaman terhadap hadis, menurutnya, memerlukan penelusuran sumber riwayat, kajian kosakata, serta perbandingan dengan hadis-hadis lain dan ayat Al-Qur’an yang berkaitan.

Pendekatan tersebut menjadi bagian penting dalam tradisi keilmuan Islam agar pesan hadis dapat dipahami secara lebih utuh dan tidak dilepaskan dari konteks pembahasannya.

Keberkahan Majelis, Penghormatan kepada Guru, dan Keikhlasan Berdakwah

Salah satu pokok penting yang disampaikan Kyai Ahmad Said adalah upaya menjaga keberkahan majelis ilmu melalui penghormatan kepada guru dan pembenahan niat dalam berdakwah.

Ia mengajak jamaah mengevaluasi kebiasaan dalam penyelenggaraan kegiatan keagamaan, termasuk bagaimana masyarakat memberikan dukungan yang layak kepada para guru, ustaz, dan dai. Menurutnya, penghormatan kepada guru tidak semestinya hanya diukur dari pemberian materi, tetapi juga dari perhatian, dukungan, dan kesungguhan menjaga keberlangsungan dakwah.

Kyai Ahmad Said menekankan bahwa dakwah tidak seharusnya dijadikan semata-mata sebagai sarana mengejar keuntungan duniawi. Keikhlasan, keteguhan beribadah, dan keyakinan terhadap pertolongan Allah SWT harus menjadi landasan bagi siapa pun yang terlibat dalam perjuangan menyebarkan ilmu agama.

Ia juga menyinggung pentingnya menghidupkan majelis ilmu secara konsisten. Kemegahan bangunan masjid atau pesantren, menurut pesan yang disampaikannya, perlu diiringi dengan kesungguhan para pengelola dan pendakwah dalam menghidupkan kegiatan ibadah serta mengajak masyarakat mendekat kepada Allah SWT.

Pendidikan Generasi Muda Menjadi Tanggung Jawab Bersama

Dalam pembahasan berikutnya, Kyai Ahmad Said memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan agama dan pembinaan generasi muda, terutama para santri yang kelak akan menjadi penerus dakwah.

Ia mengingatkan bahwa kemampuan menyampaikan ilmu harus dibangun melalui proses belajar yang sungguh-sungguh, pendalaman materi, bimbingan guru, serta penguasaan disiplin keilmuan yang memadai.

Menurutnya, para ustaz muda membutuhkan dukungan masyarakat dan para tokoh yang lebih senior agar dapat berkembang dengan baik. Pendidikan agama tidak cukup hanya ditandai dengan lamanya seseorang berada di pesantren, tetapi juga harus memperhatikan kualitas pembelajaran, kedisiplinan, pendampingan, dan capaian ilmu yang diperoleh.

Ia mengibaratkan keterbatasan pengetahuan seorang praktisi dengan ungkapan ulama:

“نِصْفُ الطَّبِيبِ يَضُرُّ بِالْأَبْدَانِ”

Artinya, “Dokter yang setengah matang dapat membahayakan tubuh.”

Ungkapan tersebut digunakan sebagai peringatan bahwa ilmu yang belum dikuasai secara memadai dapat menimbulkan dampak serius apabila disampaikan tanpa kehati-hatian. Karena itu, para pendakwah dituntut untuk terus belajar, menjaga amanah ilmu, dan menyampaikan ajaran agama sesuai kapasitas keilmuannya.

Kyai Ahmad Said juga menegaskan bahwa pembinaan generasi muda memerlukan keterlibatan bersama antara pesantren, keluarga, guru, dan masyarakat. Dengan demikian, para santri tidak hanya memperoleh pendidikan formal keagamaan, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, dan bertanggung jawab.

Keluarga sebagai Ruang Ujian Sekaligus Ladang Amal

Dalam mengembangkan pembahasan hadis nomor 288, Kyai Ahmad Said mengaitkannya dengan firman Allah SWT dalam QS. At-Taghabun ayat 14:

“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ…”

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kalian dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dan jika kalian memaafkan, menyantuni, serta mengampuni mereka, maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa keluarga dapat menjadi ujian bagi keimanan seseorang. Namun, ujian itu harus dihadapi dengan kebijaksanaan, pengendalian diri, sikap saling memaafkan, dan upaya memperbaiki keadaan.

Dalam suasana kajian yang diselingi humor dan interaksi dengan jamaah, Kyai Ahmad Said mengajak para suami dan istri untuk saling mendukung dalam kebaikan, termasuk dalam menghadiri majelis ilmu. Pesan yang ditekankan ialah pentingnya membangun keluarga yang tidak hanya harmonis dalam urusan dunia, tetapi juga bersama-sama berusaha meraih keselamatan di akhirat.

Menguatkan Tradisi Ilmu dan Silaturahmi

Pelaksanaan Tamasya Putaran ke-186 kembali menegaskan peran majelis taklim sebagai ruang silaturahmi, pembelajaran agama, dan pembentukan karakter umat. Melalui pembacaan Maulid, tahlil, penampilan Prostadz, serta kajian kitab klasik, jamaah diajak menghubungkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dengan upaya memperbaiki kualitas kehidupan sehari-hari.

Kajian Kyai Ahmad Said tidak hanya menyoroti pemahaman hadis tentang ujian dalam kehidupan keluarga, tetapi juga memperluas perhatian pada keikhlasan berdakwah, keberkahan majelis, penghormatan kepada guru, dan tanggung jawab mendidik generasi penerus.

Melalui kegiatan rutin ini, Tamasya diharapkan terus menjadi ruang tumbuhnya semangat menuntut ilmu, memperkuat persaudaraan, serta membangun masyarakat yang semakin dekat dengan nilai-nilai Islam.

Kegiatan ditutup dengan ramah tamah, sebagai bagian dari upaya mempererat hubungan ant jamaah dan menjaga kesinambungan silaturahmi dalam tradisi majelis ilmu.

TAMASYA — Ta’lim Maulid Sabtu Ahad. Merawat silaturahmi, menghidupkan majelis ilmu, dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Dan Kami Juga Selaku Penanggung Jawab juga berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan di Minggu yang akan datang.

Untuk informasi lebih lanjut:

Konfirmasi Pengajuan Tempat

Penanggung Jawab Tamasya
Yogi Setiawan
(089638202536)

Infaq Acara Transfer Ke :
BSI ( Bank Syariah Indonesia )
A/n Majlis Ta’lim Darul Futuh
7755777883
( Konfirmasi ke Nomor WA diatas)

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Klo Mau Lebih Lengkapnya Mari Nonton Link di bawah ini 👇

https://www.facebook.com/share/v/1CVpRAG3nR/

Facebook
Twitter
LinkedIn

Kategori Terpopuler

Kategori Nasehat

Scroll to Top